Ada periode aneh dalam sejarah komputer: laptop tidak dijual berdasarkan apa yang bisa dirakit pabriknya, tapi berdasarkan apa yang diizinkan untuk dijual. Ukuran layar, jumlah RAM, sampai sistem operasinya ditentukan kontrak, bukan kemampuan hardware.
Periode itu bernama era netbook. Dan kalau lo baca dokumen lisensi dari 2008–2009, kesimpulannya tidak nyaman: netbook lambat bukan karena teknologinya belum ada. Dia lambat karena harus lambat.
Dimulai dari laptop kecil yang harusnya nggak laku
Oktober 2007, Asus melempar Eee PC 701. Spesifikasinya hari ini terdengar seperti lelucon — dan memang itu intinya.
| Spesifikasi | Eee PC 701 (2007) |
|---|---|
| Layar | 7 inci, 800 × 480 |
| CPU | Intel Celeron M ULV 900 MHz |
| RAM | 512 MB |
| Storage | SSD 4 GB |
| OS | Xandros Linux (bukan Windows) |
| Berat | sekitar 1 kg |
| Harga | mulai sekitar 340 dolar di Taiwan |
Secara strategi, Asus awalnya membidik pasar yang selama ini dilayani proyek laptop sekolah: harga yang diumumkan di materi awal berkisar 199 dolar untuk pembelian massal oleh pemerintah dan institusi pendidikan di negara berkembang. Yang tidak mereka duga, orang biasa di negara kaya ikut rebutan. Batch pertama di Taiwan habis dalam 30 menit, dan tiba-tiba setiap merek laptop besar harus punya jawaban.

Asus Eee PC 701 — foto: Ashley Pomeroy, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons
Nama “netbook” itu ternyata milik perusahaan lain
Punya produk bukan berarti punya namanya. Istilah “netBook” sudah didaftarkan sebagai merek dagang oleh Psion, perusahaan PDA asal Inggris, sejak 1996, dengan pendaftaran di Amerika Serikat pada November 2000 — jauh sebelum industri PC melirik kata itu.
Ketika netbook meledak, Psion mengirim surat cease-and-desist ke sejumlah pihak yang memakai istilah tersebut. Jawabannya lebih galak dari yang mungkin Psion perkirakan: Dell menuduh Psion melakukan fraud, sementara Intel menyeret Psion ke pengadilan federal pada awal 2009. Juni 2009, keduanya sepakat berdamai dan Psion berhenti mengejar pemakai kata itu. Sejak itu “netbook” jadi kata umum.
Jadi nama kategori yang dipakai seluruh industri lahir dari sengketa merek atas produk yang sudah lama dihentikan. Cukup sering terjadi di dunia teknologi: penamaan bukan persoalan teknik, tapi persoalan hukum.

Psion netBook — salah satu produk yang memegang merek dagang “netBook”. Foto: Chithecynic, CC0, via Wikimedia Commons
Microsoft yang menahan RAM di 1 GB
Ini bagian yang paling jarang dibahas. Microsoft punya program lisensi khusus bernama ULCPC (ultra-low-cost PC). Intinya: pabrikan boleh beli lisensi Windows XP Home dengan harga jauh di bawah normal — 26 dolar untuk pasar berkembang, 32 dolar untuk negara maju — asalkan mau tunduk pada daftar batasan hardware.
| Syarat lisensi ULCPC | Batas |
|---|---|
| Prosesor | maksimal 1,0 GHz |
| RAM | maksimal 1 GB |
| Storage | maksimal 160 GB |
| Ukuran layar | maksimal 10,2 inci |
| Touchscreen | tidak boleh |
Beberapa syarat di atas sempat dilonggarkan Microsoft sepanjang 2008 karena tekanan pabrikan, tapi logikanya sudah terbentuk: makin besar dan makin kencang mesinnya, makin mahal lisensinya. Kalau semua batas itu dilanggar, lisensi murahnya hilang — dan itu satu-satunya cara membeli XP secara legal karena XP sudah ditarik dari penjualan ritel. Artinya angka “1 GB RAM” yang jadi bahan tertawaan di review netbook bukan pilihan teknis: itu hasil negosiasi harga.
Efek sampingnya lebih ironis lagi. Vista terlalu berat untuk mesin sekecil itu, jadi netbook memaksa XP tetap hidup. Microsoft harus memperpanjang masa penjualan XP sampai April 2011 — sebuah sistem operasi dari 2001 yang bertahan lebih lama dari penerusnya sendiri.
Intel juga mengerem dari sisi chip
Tekanan datang dari dua arah. Intel tidak mengizinkan prosesor Atom dipakai di laptop berlayar lebih besar dari 10,2 inci, walau secara teknis tidak ada yang melarang. Januari 2009, HP secara terbuka meminta izin memakai Atom di layar yang lebih besar — dan ditolak. Alasan resmi Intel waktu itu: “10 inci adalah sweet spot untuk netbook”. Alasan yang lebih jujur muncul di pemberitaan industri: Intel tidak mau laptop murah mengkanibalisasi penjualan prosesor Core yang marginnya jauh lebih gemuk.
Linux kalah bukan karena teknis
Netbook generasi pertama dikirim dengan Linux. Lalu studi internal MSI pada Oktober 2008 menemukan angka yang mematikan: tingkat pengembalian versi Linux empat kali lebih tinggi dibanding versi Windows XP mereka. Penyebabnya bukan bug atau driver, tapi pembeli awam yang tidak menemukan Windows di dalamnya. Canonical mengonfirmasi pola serupa dari sisi Ubuntu. Sejak itu Linux perlahan hilang dari rak toko, digantikan XP versi murah tadi.
Angka naik, lalu hilang dalam dua tahun
| Tahun | Perkiraan pengiriman netbook |
|---|---|
| 2008 | sekitar 16 juta unit |
| 2009 | naik sekitar 100% dari tahun sebelumnya, di kisaran 30 juta unit |
| 2010 | puncak, sekitar 32 juta unit |
| Setelah 2011 | anjlok dan praktis hilang sekitar 2013 |
Pelatuknya tablet. iPad muncul April 2010, dan tidak lama setelah itu Asus menurunkan target pengiriman netbook-nya sambil menunjuk tablet sebagai penyebab. Analis memprediksi kategori ini tamat sebelum 2015 — dan itu tepat.
Tapi menyalahkan tablet saja kurang lengkap. Yang benar-benar membunuh netbook adalah insentif: setiap kali pabrikan ingin menaikkan RAM, layar, atau CPU, mereka kehilangan diskon lisensi dan masuk ke wilayah harga laptop biasa yang marginnya lebih sehat. Netbook terperangkap di kotak yang disepakati bersama. Pasar yang ditinggalkannya kemudian diwarisi Chromebook — murah, ringan, dan sekali lagi sangat bergantung pada apa yang diizinkan, kali ini oleh browser.