Coba ingat suara pukulan di anime. Bukan suara siapa yang mukul, tapi “bam” khas itu — kering, tebal di tengah, ekornya pendek. Atau suara laser yang naik-turun seperti peluit elektronik. Atau “syung” pas karakter menghunus pedang.
Kalau lo nonton sepuluh judul berbeda dari dekade berbeda, suaranya kadang terasa sama persis. Itu bukan efek nostalgia di kepala lo. Di Jepang, efek suara anime memang dipegang oleh sangat sedikit orang, dan mereka memakai perpustakaan rekaman yang sama selama puluhan tahun.
Seluruh efek suara anime cuma dipegang segelintir perusahaan
Industri efek suara Jepang punya bentuk yang aneh: perusahaan-perusahaannya kecil, jumlahnya bisa dihitung jari, dan hampir semuanya punya garis keturunan yang sama.
| Perusahaan | Berdiri | Asal-usul | Klien khas |
|---|---|---|---|
| Fizz Sound Creation | 1971 (sebagai Ishida Sound Production, ganti nama 1980) | — | Sunrise, Toei, Tatsunoko, Shin-Ei, Pierrot |
| E&M Planning Center | 1972 | — | Toei, TMS, Sunrise, Ghibli (tutup sekitar 1995) |
| Swara Productions | 1976 | Didirikan Katsumi Itō, mantan Fizz | Tokusatsu, magical girl |
| Anime Sound Production | Januari 1977 | Didirikan Shoji Kato, mantan Fizz | Toei, TMS, banyak OVA 80-an |
| Sound Box | 1988 | Didirikan Shizuo Kurahashi & Kenji Shibasaki, mantan Toyo Sound Effects Group | Cowboy Bebop, Fullmetal Alchemist, Attack on Titan |
Baca kolom “asal-usul”-nya: Swara dan Anime Sound Production adalah anak didik Fizz Sound Creation, yang di Jepang dikenal sebagai sumber sebagian besar efek laser, ledakan, dan mecha yang terdengar di anime modern. Sebagian isi perpustakaan mereka bahkan ada sebelum 1971.
Detail kecil: nama Swara Productions diambil dari kata “suara” — bahasa Indonesia.
Kalau dua judul ditangani perusahaan yang sama, mereka benar-benar memakai file yang sama. Kesan “kok bunyinya mirip” itu akurat, bukan halusinasi.
Plot twist: sebagian “suara Jepang” itu suara kartun Amerika
Sound Box, rumah produksi efek suara milik Shizuo Kurahashi — orang yang mengerjakan efek suara untuk Osamu Tezuka dan sudah menyentuh lebih dari 1000 judul, termasuk AKIRA, Escaflowne, Trigun, Cowboy Bebop, dan Fullmetal Alchemist — justru dikenal karena kebiasaan sebaliknya: mereka berat memakai perpustakaan stok Hollywood.
Daftar yang mereka pakai antara lain Hanna-Barbera Sound Effects Library, Hollywood Edge Premiere Edition, Sound Ideas Series 6000, Cartoon Trax Volume 1, Warner Bros, dan Turner. Fizz Sound Creation juga memakai Hanna-Barbera sejak berdiri, dan makin sering sejak era 1990-an. Anime Sound Production bahkan memakai album BBC Radiophonic Workshop Out of This World (1976) sejak 1982.
Lalu bagaimana barang Amerika bisa jadi bunyi sehari-hari anime? Perpustakaan Hanna-Barbera itu awalnya bukan produk jualan. Versi cetaknya beredar sebagai set tujuh LP — tahun 1973, lalu ulang lagi 1986 — dan hanya dijual ke perusahaan produksi serta stasiun radio/TV. Sound Ideas baru merilisnya secara komersial sekitar 1993.
Masuknya ke Jepang punya jalur sendiri: setelah Wacky Races sukses besar di Jepang dan beberapa kerja sama dengan Toei Animation, sejumlah studio anime besar mulai ikut memakai perpustakaan itu. Masuk dekade 90-an, hampir semua studio animasi memakainya.
Jadi “kaBONG”, slide whistle, dan bunyi ricochet yang lo anggap rasa Jepang itu sebagian adalah efek kartun Amerika tahun 60-an yang kebetulan mampir lewat Toei.
Efek suaranya tidak “direkam”, tapi dipertunjukkan

Perangkat pembuat efek suara era 1940-an. Sumber: Wikimedia Commons (Yle Archives, tanpa batasan).
Di anime, gambar dan suara dipisah total: suara baru ditempel di tahap akhir, di hari yang disebut sesi dubbing, tempat dialog, BGM, dan efek suara disatukan.
Ada catatan produksi dari seorang produser anime yang menggambarkan repotnya. Kalau gambarnya belum selesai diwarnai, tim harus menandai timing di film rush pakai spidol atau pensil derma — untuk langkah kaki, mereka menandai titik kaki menyentuh tanah dengan tanda “X”. Personel efek suara di lokasi itu bahkan disebut effect men.
Masalahnya: kalau gambarnya masih garis hitam-putih, tim efek suara tidak bisa tahu tanah yang diinjak itu tanah, beton, atau kayu. Dinding ruangan juga — bahannya menentukan pantulan. Mereka harus menebak.

Ruang foley tempat suara langkah dan benturan diproduksi. Sumber: Wikimedia Commons (Vancouver Film School, CC BY 2.0).
Cara paling klasik di Jepang justru bukan merekam benda, tapi “memainkan” benda. Akira Ifukube bikin auman Godzilla 1954 dengan cara mengendurkan senar E sebuah contrabass, lalu asistennya, Sei Ikeno, menggosok senar itu pakai sarung tangan berlapis ter pinus. Teknisi suara Ichiro Minawa kemudian mengutak-atik kecepatan rekaman, menambah gema, dan menumpuknya dengan rekaman singa, harimau, dan burung kuntul dari Kebun Binatang Ueno. Hasilnya dipakai ulang untuk monster Toho lain seperti Varan, Baragon, dan Gorosaurus.

Patung Godzilla di Godzilla Square, Hibiya. Auman monster ini lahir dari contrabass dan sarung tangan berter. Sumber: Wikimedia Commons (Wpcpey, CC BY-SA 4.0).
Kenapa serial panjang tiba-tiba “bunyi beda”
Suatu hari lo nonton serial panjang, dan tiba-tiba ledakannya terasa asing. Ini bagian yang paling sering bikin fans bingung.
Itu biasanya bukan remastering. Itu ganti vendor.
Pada 2015, beberapa judul panjang berpindah dari Fizz Sound Creation ke sebuah perusahaan baru, JetSoundEngine. Salah satu penanggung jawab efek suara Fizz, Akihiko Matsuda, ikut pindah; di beberapa judul, Fizz bahkan masih tetap dicantumkan di credit. Pergantiannya terlihat dari nomor episode: One Piece berpindah mulai episode 723, Dragon Ball Super mulai episode 24, sementara Crayon Shin-chan dan Chibi Maruko-chan berpindah pada 2015.
Buat penonton awam, semuanya cuma “suara anime”. Buat orang yang tumbuh dengan serialnya, itu perubahan identitas.
Kenapa ini menarik
Karena skala industrinya kecil, efek suara anime jadi bahasa bersama: beberapa orang, beberapa perusahaan turunan, dan perpustakaan rekaman yang dipakai ulang ribuan kali sepanjang puluhan tahun. Suara yang lo hafal itu bukan kebetulan estetika — itu folklor audio dari satu set file yang sama.