Ada satu cerita yang beredar di internet sejak sekitar 2010: Pokémon Red dan Green yang rilis Februari 1996 di Jepang katanya bikin ratusan anak usia 7–12 tahun sakit, kejang, sampai bunuh diri. Penyebabnya bukan gameplay-nya, bukan ceritanya, tapi satu lagu latar di sebuah kota kecil bernama Lavender Town.
Cerita itu bikin merinding. Masalahnya cuma satu: lagu itu nggak mungkin ngelakuin hal yang dituduhkan. Dan buat tahu alasannya, kita nggak perlu lab psikoakustik — cukup spesifikasi Game Boy yang ada di lembar teknis Nintendo.
Kota pemakaman yang jujur-jujuran soal kematian
Lavender Town (シオンタウン, Shion Town) bukan sekadar kota latar. Ini wilayah pertama di Pokémon yang ngasih tahu pemain bahwa makhluk di game ini bisa mati. Di tengahnya ada Pokémon Tower, pemakaman berisi ratusan batu nisan, dan satu subplot tentang arwah Marowak yang dibunuh Team Rocket sementara anaknya, Cubone, jadi yatim.
Musiknya digarap Junichi Masuda, yang juga nulis tema battle ikonik Pokémon. Tema Lavender Town disusun dari nada-nada tajam dan atonal — sengaja, biar terasa nggak nyaman. Bertahun-tahun kemudian, pas Pokémon Tower dibongkar dalam cerita Gold/Silver, Masuda nge-remake temanya jadi jauh lebih ceria. Jadi memang ada niat artistik: wilayah sedih, musik sedih.
Versi yang jadi legenda
Legenda yang viral bilang begini: tema itu mengandung binaural beat dan frekuensi tinggi yang cuma bisa kedengeran anak-anak. Efeknya: sakit kepala, insomnia, perilaku kasar, pendarahan otak, dan pada titik ekstrem, bunuh diri. Konon versi Barat dari Red/Blue sudah diedit supaya frekuensi itu dibuang.
Dari situlah lahir creepypasta “Lavender Town Syndrome”, lengkap dengan turunannya: “Pokémon 731” yang mengaitkan tema ini dengan programmer yang mau nyuci otak anak-anak buat militer, sosok Buried Alive yang katanya tantangan final Pokémon Tower yang dibuang, dan “White Hand” — tangan membusuk yang bikin siapa pun yang melihatnya jatuh sakit. Ketiganya belakangan digabung fans jadi satu kanon.

Kenapa legenda ini kelihatan masuk akal
Karena ada presedennya yang betul-betul nyata. 16 Desember 1997, episode ke-38 anime Pokémon, “Dennō Senshi Porygon”, tayang pukul 18.30 di 37 stasiun TV Jepang. Di menit-menit akhir, ledakan yang digambar dengan kilatan merah-biru bergantian bikin 685 penonton dilarikan ke rumah sakit — 310 laki-laki, 375 perempuan, mayoritas anak-anak.
Angkanya bukan mitos: filmnya diputar 24 frame per detik, warna berganti tiap frame, artinya tiap warna berkedip 12 kali per detik — persis di rentang yang paling gampang memicu kejang fotosensitif. Adegan masalahnya sendiri berjalan 4 detik. Setelah insiden yang dijuluki “Pokémon Shock” itu, anime-nya hiatus empat bulan, episodenya ditarik dan nggak pernah tayang di negara lain, dan Jepang bikin standar penyiaran baru buat mencegah kejadian serupa.
Nah, insiden nyata ini yang jadi bahan bakar legenda Lavender Town. Patricia Hernandez dari Kotaku nunjuk satu alasan tambahan kenapa mitosnya susah dibantah: kejadiannya diklaim di Jepang, jadi buat ngecek faktanya orang butuh kemampuan bahasa Jepang — dan sebagian besar pembaca internet nggak punya itu.
Sekarang, bongkar pakai hardware-nya
Game Boy (DMG-01) punya chip suara bernama APU dengan empat kanal: dua kanal pulse dengan empat pilihan duty cycle, satu kanal wave yang memainkan gelombang custom, dan satu kanal noise. Empat sinyal itu dicampur jadi dua kanal kiri-kanan — tapi speaker internal Game Boy cuma satu, mono. Stereo hanya keluar lewat jack headphone.
Di situ argumen “binaural beat” langsung ambruk. Binaural beat lahir dari dua nada berbeda beberapa Hz, satu masuk kuping kiri dan satu masuk kuping kanan. Kalau lagunya keluar dari speaker kecil mono sambil anak main di kasur, nggak ada kiri dan kanan — nggak ada yang namanya binaural. Dan temanya dibangun dari melodi tunggal plus bas dan noise, bukan dua osilator yang sengaja dibikin berselisih.

Soal “frekuensi tinggi yang cuma kedengeran anak-anak”: itu secara fisika berarti bunyi di atas 20 kHz. Kalau benar ada, hasilnya cuma satu — nggak kedengeran. Bukan sakit kepala, bukan pendarahan otak, apalagi bunuh diri. Gangguan pendengaran dari suara nyata datang dari volume dan durasi, bukan dari frekuensi yang “disembunyikan”. Dan soal klaim bahwa versi Barat diedit buat buang frekuensi itu: sampai sekarang sumbernya berupa video penggemar dan thread forum, bukan dokumentasi rilis.
Buktinya sendiri buatan
Cerita ini mulai meledak setelah sebuah video muncul tahun 2010 yang katanya memakai “software khusus” buat menganalisis gelombang suara Lavender Town. Yang jarang disebut: gambar-gambar dalam video itu di-Photoshop — hantu dan Pokémon Unown ditempelkan ke hasil spectrogram, sampai membentuk tulisan “leave now”.
Triknya masuk akal secara teknis: spectrogram memang bisa nyimpen gambar, persis seperti ilustrasi di atas. Jadi hoaksnya bukan cuma cerita bohong, tapi visualisasi data yang diakui sains-nya — cukup buat orang yang nggak pernah lihat spectrogram asli.
Kenapa tetap nempel sampai sekarang
Ada paper akademik berjudul “‘Lavender Town Syndrome’ Creepypasta” yang berargumen legenda ini berfungsi sebagai cara fans dewasa “menghidupkan lagi” masa kecil mereka: game yang dulu jadi mainan, diubah jadi sesuatu yang berbahaya dan misterius. Mark Hill dari Kill Screen nambah satu alasan struktural — cerita ini gampang divariasikan, jadi tiap orang bisa nambah versi sendiri tanpa merusak versi aslinya.
Padahal horor paling nyata di Lavender Town udah ada di cartridge-nya sejak 1996: kota pemakaman, arwah ibu yang nyari anaknya, dan satu kalimat implisit bahwa teman mainmu bisa mati. Nggak butuh frekuensi tersembunyi buat bikin merinding — cukup empat kanal chiptune, nada atonal, speaker mungil, dan satu batu nisan.