Narasi populer soal kejatuhan Nokia selalu bunyinya sama: perusahaan Finlandia itu “ketiduran” dan nggak sadar dunia pindah ke layar sentuh setelah Steve Jobs naik panggung Januari 2007.
Masalahnya, itu bohong secara tanggal.
Nokia sudah menjual HP layar sentuh penuh pada November 2004 — dua tahun tiga bulan sebelum iPhone diumumkan. Dan itu bukan proyek iseng: ada tim UI khusus, nama platform sendiri, dan hardware yang lumayan gila untuk ukuran saat itu. Yang menarik bukan fakta bahwa Nokia pernah bikin, tapi keputusan yang diambil tepat sebelum barangnya dijual.
7710: satu-satunya, dan itu pun sisa

Nokia 7710 (2004), perangkat layar sentuh pertama Nokia yang benar-benar dijual. Domain publik, Wikimedia Commons.
Nokia 7710 diumumkan 2 November 2004. Spesifikasinya: layar TFT sentuh 3,5 inci 640×320, prosesor TI OMAP 1510 168 MHz, 90 MB penyimpanan, dan — ini yang penting — Series 90, antarmuka Symbian yang dirancang dari nol untuk layar lebar dan stylus, bukan keypad 12 tombol.
Di atas kertas itu tablet kecil; di pasar, produk yatim.
Sebabnya ada di urutan kejadian: program Series 90 dibatalkan justru tak lama sebelum 7710 diluncurkan. Bukan setelah produknya gagal — sebelum sempat dijual. Teknologinya dilebur ke S60, platform Nokia untuk HP keypad. Hasilnya, 7710 jadi satu-satunya perangkat produksi yang pernah membawa Series 90 seumur hidup platform itu.
Pendahulunya, Nokia 7700, diumumkan Oktober 2003 sebagai perangkat pena pertama Nokia, lalu dibatalkan pertengahan 2004 setelah delapan bulan. Alasannya bertumpuk: software yang telat, bodi yang dijuluki “telinga gajah”, fitur sidetalking gaya N-Gage, dan harga perkiraan €800. Unit yang beredar cuma sekitar 20 buah, sebagian besar ke internal.

Nokia 7700 — diumumkan 2003, dibatalkan 2004, hanya sekitar 20 unit prototipe yang pernah keluar. Foto CC0 via Wikimedia Commons.
Jadi pola pertamanya sudah kelihatan di sini: Nokia bukan gagal membuat perangkat layar sentuh. Nokia membatalkan platform software-nya lebih cepat daripada membatalkan produknya. Dua kali berturut-turut.
Lalu iPhone datang, dan Nokia menjawab dengan menempel
Sampai 2007, strategi itu kelihatan masuk akal. Di kuartal keempat 2007 Nokia mengapalkan 133,5 juta unit HP dalam tiga bulan — lebih banyak dari gabungan tiga pesaing terdekatnya — dengan pangsa pasar perangkat sekitar 40% dan penjualan bersih setahun €51,1 miliar. Symbian di akhir 2007 masih menguasai sekitar 62,5% pasar smartphone global. Kalau punya mesin uang sebesar itu, eksperimen UI layar lebar memang terasa seperti gangguan.
Respons pertama Nokia adalah 5800 XpressMusic (2008), perangkat sentuh penuh pertamanya yang serius. Sukses secara penjualan, tapi jadi contoh paling jelas dari apa yang salah.
S60 5th Edition sebenarnya S60 3rd Edition yang sama — UI satu tangan yang dirancang untuk D-pad dan tombol softkey — hanya diberi kemampuan menerima sentuhan layar. Paradigma lamanya tidak dibongkar: “scroll lalu pilih”. Hasilnya adalah salah satu keanehan paling sering dikeluhkan reviewer saat itu: di dalam daftar, satu ketukan cuma menyorot baris, kamu harus mengetuk dua kali untuk benar-benar membukanya. GSMArena menyebutnya tidak konsisten — ikon cukup sekali tap, list butuh dua. AllAboutSymbian menulis bahwa pengguna “mengetuk sekali lalu menunggu”, kecewa karena tidak terjadi apa-apa, lalu mengetuk lagi.
Bukan bug sepele — itu tanda software-nya masih berpikir dalam bahasa kursor.
Angka yang membantah teori “kurang investasi”
Teori favorit kedua — “mereka kurang riset” — juga salah arah.
Sepanjang 2010, Nokia membelanjakan sekitar $3,9–4,3 miliar untuk R&D divisi perangkat — lebih dari dua kali lipat total R&D Apple ($1,78 miliar di tahun fiskal 2010). Dalam persentase penjualan HP, Nokia membakar sekitar 10,2% untuk riset, Apple 2,5%. Di dalamnya ada sekitar 6.200 insinyur proyek Symbian, 1.800 di MeeGo dan Qt, 1.800 di layanan, 1.800 di S40.
Uangnya ada. Orangnya ada. Yang tidak ada adalah keputusan untuk membiarkan satu platform baru hidup cukup lama sampai dia dewasa.
N9: pola yang sama, diulang untuk terakhir kali
Setelah Symbian dan MeeGo dilebur dalam satu pengumuman pada 11 Februari 2011, tim Harmattan tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Hasilnya Nokia N9: bodi polikarbonat satu potong, tanpa satu pun tombol di depan, seluruh antarmuka digerakkan lewat swipe.

Nokia N9 (2011), satu-satunya ponsel MeeGo yang pernah dirilis Nokia. Foto oleh Animist, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons.
N9 diumumkan 21 Juni 2011, dikirim September, dan dipuji sebagai Nokia terbaik dalam bertahun-tahun. Beberapa hari setelah peluncuran, CEO Stephen Elop bilang ke Helsingin Sanomat: kalaupun N9 sukses, dia tetap jadi satu-satunya ponsel MeeGo Nokia.
Dan memang begitu. N9 tidak pernah dijual di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, maupun Jepang. Angka penjualannya tidak pernah dipublikasikan. Tidak ada penerus. Setelah update PR 1.3 (Juli 2012), banyak anggota tim MeeGo keluar — sebagian besar menuju Jolla. Yang tersisa dari N9 adalah bodinya, yang dipakai ulang untuk Lumia 800.
Pengumuman 11 Februari 2011 sendiri langsung dihukum pasar: saham Nokia jatuh 14% dalam sehari. Perusahaan sudah mengumumkan kematian platform utamanya sendiri jauh sebelum penggantinya tersedia dalam volume berarti. September 2013, divisi handset-nya dijual ke Microsoft seharga €5,4 miliar.
Pelajarannya bukan soal teknologi
Nokia kalah bukan karena tidak bisa membuat layar sentuh, tidak punya engineer, atau tidak punya uang. Nokia kalah karena setiap kali ada platform yang mengancam bisnis intinya — 400 juta unit HP keypad setahun — perusahaan memilih menyelamatkan bisnis intinya itu.
Series 90 dibunuh sebelum dijual. S60 5th Edition dipertahankan supaya aplikasi lama tetap jalan, dan justru itu yang bikin pengalaman sentuhnya terasa setengah jadi. MeeGo dibunuh sebelum N9 sempat dapat kesempatan kedua.
Mereka menangkap diagnosisnya dengan benar dan cepat. Yang gagal adalah keberanian menanggung biaya transisinya.