Langsung ke konten
Iqbal Adi
Kembali

Keyboard Mechanical Balik dari Mati — Petunjuknya Ada di Obat Nyamuk Jepang

Bayangkan tahun 1996. IBM baru saja menghentikan produksi keyboard legendarisnya, Model M. Industri sudah sepakat: keyboard mekanikal itu mahal, berisik, dan ketinggalan zaman. Yang menang adalah karet murah — dome switch, plastik, diam. Hampir satu dekade kata “keyboard mekanikal” terdengar seperti obituari.

Tiga puluh tahun kemudian, orang rela antre group buy setahun lebih lama cuma buat keyboard aluminium 1,5 kg dan menonton video typing test kayak ASMR. Apa yang sebenarnya terjadi di antara dua titik itu?

Cherry MX switch dibongkar — kelihatan cross stem, pegas, dan kontak metal di dalamnya

Isi dalam satu tombol: rumah plastik, pegas, cross stem, dan kontak logam. Sumber: Wikimedia Commons (Multicherry, CC BY-SA 4.0).

Yang bunuh keyboard mekanikal dulu bukan teknologinya

Penyebabnya murni ekonomi. Model M lahir tahun 1985 sebagai versi yang dipangkas dari pendahulunya, Model F. Model F pakai sensor kapasitif di PCB — sensasi lebih crispy, actuation sekitar 600 mN, MTBF di atas 100 juta keypress, dan full n-key rollover. Model M menggantinya dengan membran murah.

Idenya tetap jenius: pegas di bawah tiap tombol melengkung (buckle) sampai mentok, bukan cuma tertekan. Bunyi “klak” itu bukan speaker — itu suara pegas yang menyerah dan jatuh ke kontak.

Model M lalu mengisi hampir tiap PC IBM, ditaksir menembus 10 juta unit. Tapi begitu produsen Asia bisa bikin dome array dengan biaya sepersekian, permainannya selesai. IBM stop produksi 1996, dan seluruh industri ikut belok.

Satu orang yang nggak mau ikut belok

Yang lucu: keyboard mekanikal sebenarnya tidak pernah benar-benar mati. Ada yang tetap produksi — cuma dari sebuah gedung pabrik mebel tua di Kentucky.

Tahun 1991 IBM memindahkan divisi keyboard-nya ke Lexmark. Kontrak pasokan lima tahun dengan IBM habis Maret 1996, dan Lexmark memutuskan keluar dari bisnis keyboard. Seorang manajer produk bernama Neil Muyskens ditugaskan cari pembeli untuk divisi itu. Nggak ada yang mau. Akhirnya dia sendiri yang menebus asetnya — desain, paten, cetakan (tooling), dan mesinnya — lalu mendirikan Unicomp pada April 1996 di Lexington, Kentucky.

Delapan bulan berdiri, isinya 14 orang — mayoritas mantan pekerja IBM dan Lexmark. Puncaknya di dekade 2000-an: 120+ karyawan. Tapi 2011 tinggal 25 orang, dan 2012 mereka cuma sanggup mengirim 20-30 keyboard per hari. Ironisnya, cetakan yang mereka warisi dari Lexmark baru diganti tahun 2020 — mesin itu dipake terus selama 24 tahun sampai aus.

Keyboard IBM Model M, layout 101 tombol yang jadi standar ANSI

Model M versi 101 tombol. Layout-nya jadi cetak biru mayoritas keyboard setelahnya, distandarkan ANSI 1988 dan ISO 1994. Sumber: Wikimedia Commons (BorgHunter, public domain).

Sementara itu, orang Jepang bikin switch dari… obat nyamuk

Sambil industri global belok ke dome murmer, sebuah perusahaan yang sama sekali bukan perusahaan komputer diam-diam sudah lama nyetak keyboard: Topre, berdiri April 1935 di Tokyo sebagai ahli cetak logam (nama asalnya Tokyo Press Kogyo). Awalnya mereka cuma bikin dies dan komponen tekan. Masuk ke keyboard tahun 1976 — dan gagal, karena perusahaan teknologi Jepang waktu itu ogah order.

Di akhir 1970-an, seorang engineer muda Topre dapat ide: switch kapasitif dengan pegas berbentuk kerucut spiral. Inspirasinya? Katori senkō — obat nyamuk bakar spiral yang biasa dipakai keluarga Jepang. Setelah setahun nyempurnain desain dan tes umur pakai, barulah Hitachi, JVC, dan Ricoh mau pesan.

Tahun 1985 pabriknya di Tokyo produksi 30.000 unit sebulan, dengan harga sampai US$90 per keyboard (setara ±US$269 hari ini). Teknologi inilah yang belakangan bikin Happy Hacking Keyboard dan Realforce jadi barang kultus di kalangan penggemar. Dan yang jarang disebut: perusahaan yang bikin switch kapasitif kesohor ini juga produsen bemper dan dashboard buat Toyota, Honda, dan Nissan.

Happy Hacking Keyboard Professional 2 — switch kapasitif Topre

Happy Hacking Keyboard Professional 2. Switch-nya kapasitif, warisan ide pegas spiral era 1970-an. Sumber: Wikimedia Commons (Aon fi, CC BY 3.0).

Paten yang keburu mati tapi nggak dipake

Sisa puzzlenya ada di Jerman. Cherry — didirikan 1953 oleh Walter Cherry di basement sebuah restoran di Highland Park, Illinois — mengklaim diri sebagai produsen keyboard tertua yang masih hidup (bikin keyboard sejak 1973). Switch “Mechanical X-Point” alias MX mereka dipatenkan di awal 1980-an dan dipasarkan sekitar 1985.

Di sini ada keanehan yang jarang dibahas. Cherry sendiri, di blog resminya tahun 2019, bilang pasar switch murah kebanjiran gara-gara “paten dari 1984 yang sudah kedaluwarsa”. Tapi paten inti MX-nya, US 4.467.160 A, diajukan tahun 1983 — habis masa berlakunya tahun 2003, bukan 2014. Sementara hampir semua media teknologi menulis angka 2014. Jadi apa yang sebenarnya habis tahun 2014?

Yang jelas, efeknya terasa sekaligus: Kailh, Gateron, Outemu, Greetech, dan sejenisnya baru benar-benar banjir sejak dekade 2010-an. Das Keyboard — keyboard “tanpa tulisan” yang ngetop di New York Times 2005 — bahkan pake switch clone Greetech di sebagian model sesudah 2015. Padahal faktanya: iterasi pertama Das Keyboard tahun 2005 itu bukan keyboard mekanikal sama sekali. Masih karet, cuma tiap tombolnya diberi bobot berbeda biar terasa “berat”. Versi mekanikal aslinya baru datang 2006, pakai MX Blue.

Yang bikin dia bangkit: gamer, lalu komunitas

Pemicu massa-nya bukan nostalgia, tapi gaming. Tahun 2010 Razer rilis BlackWidow, keyboard pertama yang didesain khusus buat gaming dengan switch mekanikal. Dan ini bagian paling absurd: buat nentuin switch-nya, Razer bikin polling online terbuka. Yang menang: MX Blue. Makanya BlackWidow generasi pertama bunyinya klik-klik berisik — gara-gara voting.

Setelah itu pintunya kebuka. Komunitas Korea, khususnya forum OTD (On The Desk), mulai bikin keyboard full custom sejak 2008. Board pertama mereka, 356L, berkembang jadi seri 356, dan group buy pertama — 356CL — dianggap leluhur langsung budaya “kustom” sekarang: casing aluminium Jerman dengan bobot kuningan di dalam, sekitar 1,5 kg, dirancang bareng-bareng anggota forum, bukan oleh merek.

Dari situ nyambung semua: hot-swap socket, gasket mount, lubing, sampai video thock test yang muncul terus di feed lo.

Jadi keyboard mekanikal nggak dibangkitkan rasa kangen. Dia diselamatin oleh seorang manajer Lexmark yang kebetulan nggak nemu pembeli, satu engineer Topre yang kelamaan ngeliatin obat nyamuk, gamer yang milih switch lewat polling, dan paten yang entah kenapa baru punya efek puluhan tahun setelah habis.


Bagikan tulisan ini:

Tulisan Sebelumnya
Ketika 20 Detik Nada Dering Lebih Laku dari Lagu Utuh
Tulisan Berikutnya
Snake Nokia Ditulis Orang yang Nggak Pernah Bikin Game — dan Mode 2 Pemainnya Nggak Pernah Dites