Coba tebak: dari semua game yang dirilis di Amerika sebelum 2010, berapa persen yang masih bisa lo beli secara legal hari ini? Kalau jawaban lo di sekitar 50 persen, lo bakal kaget. Angka aslinya 13,27 persen. Sisanya — sekitar 87 persen — resmi nggak bisa dibeli lagi di mana pun.
Itu bukan tebakan. Itu hasil Game Availability Study dari Video Game History Foundation bareng Software Preservation Network (2023), margin error ±2,5 persen — dan hasilnya lebih buruk dari yang ditakutkan siapa pun di industri preservasi.
Yang bikin makin nggak nyaman: makin tua game-nya, makin tipis peluangnya masih ada. Untuk judul yang rilis sebelum 1985, cuma sekitar 3 persen yang masih bisa diakses. Contoh paling ekstrem adalah Commodore 64, dengan tingkat ketersediaan sekitar 4,5 persen — dan hampir semuanya bergantung pada satu layanan streaming bernama Antstream Arcade. Kalau layanan itu tutup, ketersediaan game C64 diperkirakan anjlok ke 0,75 persen. Satu perusahaan bangkrut, satu peradaban game ikut hilang dari peredaran legal.
Yang bikin ironis: film bisu era awal Hollywood — jauh lebih tua dan jauh lebih rapuh medianya — punya tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik daripada game klasik.
Kenapa Game Lebih Rapuh dari Media Lain?
Ada alasan teknis yang jarang dibahas.
Pertama, game itu benda yang nempel ke mesin. Film bisa diputar di proyektor mana pun yang kompatibel. Cartridge Atari 2600 nggak ada artinya tanpa konsolnya, dan konsolnya nggak ada artinya tanpa TV dengan input yang sudah nggak diproduksi lagi.
Kedua, media simpannya pelan-pelan bunuh diri. Baterai kecil di cartridge NES/SNES bocor dalam 20-30 tahun dan merusak PCB-nya. EPROM kehilangan muatan listriknya — bit rot. Disket dan kaset magnetik kehilangan sinyalnya. Ini bukan soal malas, ini soal fisika.
Ketiga, banyak game modern bergantung pada server yang bisa dimatikan kapan saja. Begitu servernya ditutup, yang tersisa cuma layar error.
Legenda vs Isi Kuburan
Cara paling dramatis buat memahami betapa kacau arsip game adalah kisah kuburan Atari di Alamogordo, New Mexico. Selama puluhan tahun beredar legenda: setelah kalah perang konsol tahun 1983, Atari mengubur jutaan cartridge — termasuk E.T. the Extra-Terrestrial — di gurun. Cerita ini dianggap mitos urban sampai akhirnya digali beneran pada 26 April 2014 dan disiarkan sebagai dokumenter.
Yang ditemukan? Sekitar 1.300 keping, bukan jutaan. Kota Alamogordo bahkan dikasih jatah sampai 250 keping. Pelajarannya: cerita populer soal game sering membengkak, dan cara tahu kebenarannya cuma satu — gali sendiri.
Game yang Mengudara Sekali, Lalu Lenyap
Ada kategori game yang bahkan penggalian fisik pun nggak bisa menolong: game yang disiarkan.
Ini soal Satellaview, periferal Super Famicom yang dirilis Nintendo di Jepang, 23 April 1995. Konsepnya gila untuk jamannya: game dikirim lewat siaran satelit, lo mainkan game-nya sambil audio siaran radionya jadi bagian dari gameplay. Game seperti ini disebut Soundlink, dan potongan gameplay-nya disinkronkan ke narasi audio yang disiarkan sekali itu saja. Kalau ketinggalan siarannya, ya sudah.

Unit Satellaview (SHVC-029) menempel di Super Famicom, lengkap dengan kaset BS-X dan memory pack 8M. Foto: Muband / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.
Karena itu, sisa data Satellaview hanya bertahan di memory pack — dan tragisnya, keping itu bisa dipakai ulang dan ditimpa siaran berikutnya. Jadi menemukan data lama berarti mencari keping yang kebetulan nggak pernah dipakai lagi. Ada delapan siaran Satellaview terkait F-Zero, dan sebagian trek dari BS F-Zero Grand Prix 2 lenyap begitu saja.
Komunitas nggak diam. Seorang preservasionis sampai memasang bounty US$5.000 (dilaporkan sebagai US$2.500 per minggu temuan) buat siapa pun yang bisa menemukan data trek yang hilang. Bounty itu baru terbayar pada Maret 2025 — oleh pendumper anonim yang, menurut komunitas, itu adalah dump ke-300 dalam usahanya bertahun-tahun. Datanya diverifikasi bareng pengembang proyek fans BS F-Zero Deluxe. Hampir tiga dekade setelah siarannya mengudara, sebagian trek itu akhirnya bisa dimainkan lagi.
Prototipe: Versi Game yang Nggak Pernah Resmi Ada
Lapisan lain dari preservasi adalah dunia prototipe — versi setengah jadi yang bocor dari kantor developer. Contoh paling tenar: demo Spaceworld ‘97 dari Pokémon Gold/Silver.
Demo ini dipamerkan Nintendo di Spaceworld 1997, lalu menghilang dan selama 20 tahun lebih cuma jadi rumor. Baru pada 26 Mei 2018, empat ROM-nya muncul di Discord tim reverse-engineering Pret — dua versi debug, dua versi dimodifikasi supaya jalan di Game Boy biasa dan emulator. Sebagian laporan menyebut data itu didapat lewat pembobolan server Nintendo, klaim yang didukung dokumen pengadilan. Hasilnya dibedah sekitar 25 orang, dan yang keluar bukan cuma versi awal Gold/Silver: ada lebih dari seribu sprite beta dan sisa aset konsep Capsule Monsters, nama sebelum franchise itu jadi Pokémon.

Kartrid Nintendo World Championships 1990 versi abu-abu — logonya sengaja diblur di foto ini. Versi emasnya cuma dibuat 26 keping. Foto: JJ Hendricks / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.
”Dump” Bukan Cuma Salin-Tempel
Banyak orang mengira preservasi game cuma soal mengunduh ROM. Padahal di baliknya ada disiplin yang serius. Proyek seperti No-Intro dan Redump memelihara basis data checksum (CRC32, MD5, SHA-1) dari setiap dump yang dianggap akurat — memastikan berkas yang beredar benar-benar identik dengan isi media aslinya, bukan dump yang cacat atau terpotong.
Di catatan internal mereka bahkan ada istilah teknis khas, misalnya penanda untuk dump yang terlanjur dipotong lalu dipulihkan kembali dari header filenya. Ini kerjaan detektif, bukan hobi iseng.
Dan itu inti persoalannya. Kalau bukan komunitas dan arsip yang mengerjakannya dengan gila-gilaan, yang tersisa buat generasi berikutnya cuma nama di daftar isi — dan cerita bahwa dulu pernah ada game yang mengudara dari satelit.