Coba tebak kapan anime paling banyak tayang di televisi nasional Indonesia. Kalau jawabanmu “era 90-an”, kamu salah. Puncaknya justru 2004: 56 judul anime berbeda mengudara dalam satu tahun. Tujuh tahun kemudian, 2011, jumlahnya tinggal 8.
Nggak ada arsip penyiaran lengkap di Indonesia, jadi angka ini direkonstruksi dari halaman jadwal TV surat kabar 2001–2011 dalam sebuah studi sejarah di Jambura History and Culture Journal. Kurvanya:
| Tahun | Jumlah judul anime di TV nasional |
|---|---|
| 2001 | 11 |
| 2002 | 25 |
| 2003 | 50 |
| 2004 | 56 |
| 2005 | 49 |
| 2006 | 30 |
| 2007 | 30 |
| 2008 | 24 |
| 2009 | 24 |
| 2010 | 14 |
| 2011 | 8 |
Naik empat kali lipat dalam tiga tahun, lalu jatuh ke seperdelapannya. Pertanyaannya bukan “kenapa anime hilang”, tapi: rantai apa yang sebenarnya putus di situ?
Komiknya datang lebih dulu, dan itu bukan kebetulan
Industri anime di Indonesia nggak dibuka oleh anime. Yang lebih dulu jalan adalah komiknya. November 1990, Elex Media Komputindo menerbitkan Candy Candy — manga Jepang pertama yang terbit legal di Indonesia. Sampai September 1991, komik itu sudah dicetak ulang empat kali (November 1990, Maret, Juli, dan September 1991).
Alasan penerbitannya pun bukan hasil riset pasar: pemimpin Kompas–Gramedia, Jakob Oetama, membawa pulang komik itu dari kunjungan dinas ke Jepang — ukurannya kecil dan ceritanya lebih ringan dibanding komik Cina dan komik Indonesia yang beredar saat itu.
Sepanjang 1990–1999, Elex menerbitkan lebih dari 2.000 judul komik Jepang: Doraemon tembus volume 62, Kungfu Boy sampai volume 39. Survei 1997 di Surabaya menemukan 60 dari 100 anak menyukai komik Jepang, sementara komik Indonesia cuma 26.
Urutannya penting: cetak dulu, siaran belakangan. Anime Candy Candy baru tayang di RCTI pada 1992–1995, setelah komiknya jadi barang laris. Televisi masuk sebagai pelengkap bisnis yang sudah hidup, bukan sebagai pembuka jalan.
Studio sulih suaranya lebih tua dari anime-nya
Ini bagian yang paling sering dilewatkan: anime 90-an nggak punya industri dubbing sendiri. Ia menumpang infrastruktur milik drama radio dan telenovela.
Sanggar Prathivi, gedung delapan lantai di Pasar Baru Selatan, Jakarta, adalah studio sulih suara pertama dan tertua di kota itu — berdiri 1971 menurut satu catatan, 1967 menurut catatan lain, dan perbedaan itu sendiri sudah menunjukkan betapa bolongnya arsip industri ini. Pendirinya Pater Daniel/Handojo Sunjoto, pengelolanya Ordo Jesuit, dan produk pertamanya sandiwara radio — bukan kartun.
Kawasan Pasar Baru, Jakarta. Studio sulih suara Sanggar Prathivi beroperasi di Jalan Pasar Baru Selatan sampai tutup 30 Desember 2021. Foto: Midori, Wikimedia Commons (CC BY 3.0).
Alumninya bukan nama kecil: Ferry Fadli, yang dulu mengisi suara tokoh Brama Kumbara di drama radio sebelum pindah ke telenovela, dan Maria Oentoe, yang suaranya sampai sekarang masih terdengar tiap kali pintu bioskop 21/XXI dibuka. Jadi dubber anime era 90-an adalah orang-orang yang lahir dari radio drama dan Maria Mercedes.
Ada detail ekonomi yang aneh di profesi ini: nilai seorang pengisi suara diukur dari jumlah “warna suara” yang bisa ia keluarkan. Makin banyak warna, makin mahal tarifnya. Dan satu orang memang bisa merangkap banyak karakter dalam satu judul — Anna Satryana Lubis, misalnya, mengisi suara Doraemi, Dekisugi, dan Ibu Giant. Ada juga Herman Wijaya, satu-satunya pengisi suara Goofy versi Indonesia.
Semuanya dilabeli “kartun” — dan itu ada harganya
Karena semuanya dibungkus sebagai tayangan anak, slot anime jadi Minggu pagi, dan judul bertema berat praktis nggak punya jalur siaran. Contoh paling ekstrem: Neon Genesis Evangelion cuma tayang tiga episode di Trans TV, 26–28 Mei 2003, lalu berhenti.
Konsekuensinya justru menarik. Permintaan nggak hilang — permintaan itu pindah jalur ke rental VCD yang tumbuh liar sepanjang 2000-an. Jadi tesis “anime dilarang gara-gara sensor” itu tidak akurat. Yang terjadi adalah pemindahan distribusi, jauh sebelum internet jadi alasan.
Pesawat televisi tabung era 1990-an. Foto: ProtoKiwi, Wikimedia Commons (CC BY 4.0).
Tiga sebab turunnya 56 ke 8
Pertama, regulasi. UU No. 23/2002 tentang Penyiaran mengatur perlindungan anak dan remaja, lalu UU No. 33/2009 soal karya visual (animasi/kartun) yang dilarang memuat kekerasan, perjudian, narkotika, dan pornografi. Teguran regulator yang ramai diberitakan menambah stasiun jadi ekstra hati-hati memilih judul.
Kedua, ekonomi konten lokal. Waktu televisi swasta makin banyak dan jam tayang mulai dirambah sinetron, permintaan jasa sulih suara menurun. Sinetron itu produksi sendiri, harian, dan gampang jual iklan lokal; anime butuh biaya lisensi plus biaya dubbing tiap judul.
Ketiga, internet. Dari 2006 penonton mulai pindah dari antena ke koneksi rumah. Ngapain bangun pagi buat nonton kalau bisa kapan saja?
Yang mati adalah rantainya, bukan animasinya
Bukti paling jelas datang dari Doraemon. Setelah puluhan tahun menemani Minggu pagi RCTI, ia berhenti tayang per 4 Januari 2026 — dan soal sejak kapan ia mulai, sumber-sumbernya saling bertabrakan: TVRI 1979, masa siaran percobaan RCTI 1988, atau 9 Desember 1990.
Beberapa bulan setelah berhenti dari TV, dub Indonesia-nya muncul lagi di YouTube lewat kanal resmi Muse, gratis dan legal, dengan sebagian pengisi suara yang sama. Bedanya cuma satu hal kecil yang khas banget: versi RCTI dulu mengganti audio lagu pembuka Yume wo Kanaete dengan versi Indonesia dari Doraemon no Uta. Versi Muse memakai audio Jepang aslinya.
Jadi yang benar-benar mati antara 2004 dan 2011 bukan animasinya, bukan juga minat penontonnya — melainkan rantai distribusinya: studio sulih suara di Pasar Baru yang tutup 30 Desember 2021, slot Minggu pagi, dan komik seharga di bawah lima belas ribu rupiah yang dulu jadi pintu masuk semuanya. Anime-nya cuma pindah rumah, dan sebagian besar dari kita bahkan tidak sadar kapan kepindahannya terjadi.